Anda tidak akan bisa menghargai apa yang bakal Anda miliki bila Anda belum bisa menghargai apa yang sudah Anda punyai saat ini. Apakah Anda setuju dengan pernyataan tersebut? Mungkin Anda akan manggut-manggut tanda setuju.
Namun kenyataannya, banyak dari kita kerap terjebak dan terpesona pada ‘fokus yang salah’. Kita kerap kali lebih menghargai dan menaruh perhatian pada apa yang belum dimiliki, yang kita dambakan, ketimbang pada apa yang sudah ada di tangan kita.
Sebut saja misalnya, seseorang yang sedang jatuh cinta. Ia terkadang bisa sampai lupa diri, sehingga melupakan keluarga dan teman-temannya. Seluruh perhatian dan pengorbanan seolah tertuju hanya untuk si dia seorang. Hanya doi yang terlihat penting di mata, makanya sampai muncul istilah dunia seolah milik berdua.
Semua orang seolah jadi tidak sepenting doi. Bahkan tak jarang keluarga sendiri dilupakan, ditinggalkan, atau dibenci hanya gara-gara doi.Lalu sekarang pertanyaannya, mengapa terkadang kita lebih bisa mengasihi ‘orang luar’ dibanding ‘orang dalam’ alias keluarga sendiri? Mengapa kita jadi terseret untuk lebih menghargai doi daripada keluarga atau teman sendiri? Sebabnya hanya satu, yaitu karena kita belum benar-benar mengenal karakter doi dan ‘orang luar’ itu seperti apa. Read more…








