Archive for the "Dongeng Anak" Category

Perjuangan Pohon Bambu

Posted by: Asri Mulyaniin Dongeng Anak
20
Feb

Pada suatu waktu aku merasa sangat jenuh dan bosan dengan kehidupan ini dan ingin berhenti dari semuanya, berhenti dari pekerjaan, hubungan, spiritual… dan berhenti untuk hidup.
Aku pergi ke tengah hutan dan ingin berbicara untuk yang terakhir kalinya dengan Sang Pencipta.
“Tuhan, mohon berikan saya satu alasan untuk tetap hidup dan berjuang?”
Ternyata jawaban Maha Pencipta yang Agung sangat mengejutkan….
“Lihat di sekelilingmu, apakah kamu melihat tanaman Semak dan pohon Bambu? “Ya,” jawabku.
Yang Maha Pencipta mulai bertutur:
“Saat aku menanam benih Semak dan Bambu, aku memelihara mereka dengan sangat baik dan hati-hati. Aku memberi mereka sinar matahari, menyirami dengan air seadil-adilnya. Tanaman Semak tumbuh dengan sangat cepat. Daun-daunnya yang hijau tumbuh rimbun sampai menutupi tanah disekelilingnya. Sedangkan benih Bambu belum memperlihatkan apapun.
Tetapi aku tidak menyerah dan tetap memelihara mereka dengan baik dan adil. Pada Tahun ke-2, tanaman Semak tumbuh makin subur, rimbun dan makin bertambah banyak. Tetapi, benih Bambu tetap belum memperlihatkan tanda-tanda pertumbuhan.

Pada tahun ke-3, benih Bambu masih sama seperti sebelumnya. Tetapi, tetap Aku tidak menyerah. Begitu juga dengan tahun ke-4 masih sama saja. Aku bertahan untuk tidak menyerah. Read the rest of this entry »

Anak Gembala yang Jujur

Posted by: Asri Mulyaniin Dongeng Anak
27
Jan

Suatu hari, Abdullah bin Umar dan sahabatnya pergi ke pasar untuk membeli barang yang diperlukan. Tiba di pasar, mereka mencari tempat untuk makan. ketika itu, lewat di depan mereka seorang anak kecil pengembala kambing. Kemudian, Abdullah memanggil anak gembala itu untuk makan bersama mereka. ” Terima kasih, Tuan. Tetapi, maaf saya sedang puasa,” jawab anak gembala itu. Abdullah bin Umar memandang anak gembala itu dengan kagum.” Di hari yang panas seperti ini kamu berpuasa sambil mengembala kambing,” kata Abdullah bin umar. “Tuan, api neraka itu lebih panas lagi,” jawab anak itu. ” Kamu benar!” kata Abdullah bin Umar. Kemudian, Abdullah bin Umar meminta anak itu untuk menjual satu ekor dari kambing gembalanya. “Maaf, Tuan…kambing-kambing ini bukan milik saya,” jawab anak itu. Abdullah bin Umar semakin kagum. Ia ingin menguji sifat amanah dan keimanan anak gembala tersebut. ” Kamu bisa menjual satu dari kambing itu. Lalu, uangnya bisa kamu belikan apa saja yang kamu butuhkan,” rayu Abdullah bin Umar. ” Kalau majikanmu bertanya, bilang saja di makan serigala. Bagaimana setuju?” tanya Abdullah bin Umar. Read the rest of this entry »