Anda tidak akan bisa menghargai apa yang bakal Anda miliki bila Anda belum bisa menghargai apa yang sudah Anda punyai saat ini. Apakah Anda setuju dengan pernyataan tersebut? Mungkin Anda akan manggut-manggut tanda setuju.
Namun kenyataannya, banyak dari kita kerap terjebak dan terpesona pada ‘fokus yang salah’. Kita kerap kali lebih menghargai dan menaruh perhatian pada apa yang belum dimiliki, yang kita dambakan, ketimbang pada apa yang sudah ada di tangan kita.
Sebut saja misalnya, seseorang yang sedang jatuh cinta. Ia terkadang bisa sampai lupa diri, sehingga melupakan keluarga dan teman-temannya. Seluruh perhatian dan pengorbanan seolah tertuju hanya untuk si dia seorang. Hanya doi yang terlihat penting di mata, makanya sampai muncul istilah dunia seolah milik berdua.
Semua orang seolah jadi tidak sepenting doi. Bahkan tak jarang keluarga sendiri dilupakan, ditinggalkan, atau dibenci hanya gara-gara doi.Lalu sekarang pertanyaannya, mengapa terkadang kita lebih bisa mengasihi ‘orang luar’ dibanding ‘orang dalam’ alias keluarga sendiri? Mengapa kita jadi terseret untuk lebih menghargai doi daripada keluarga atau teman sendiri? Sebabnya hanya satu, yaitu karena kita belum benar-benar mengenal karakter doi dan ‘orang luar’ itu seperti apa. Read the rest of this entry »
Suami adalah pemimpin dalam keluarga. Sebagai pemimpin, mereka berhak memutuskan. Namun sang istri yang bertanggung jawab terhadap keluarga, juga berhak memberikan berbagai masukan. Suami tidak akan bisa memberikan keputusan yang bijak tanpa melibatkan istrinya, karena sang istri yang mengelola keluarga dan mengetahui seluk beluk anggota keluarga. Tanpa mempertimbangkan posisi suami, sang istri juga tidak bisa memutuskan secara bijak, karena keluarga tetap membutuhkan sumbangsih pemikiran kepala keluarga.
Suami adalah partner dalam mewujudkan tujuan keluarga kita. Usahakan seorang istri bisa membina hubungan dengan suami secara jujur, terbuka dan intens. Dengan sikap ini, bersama-sama suami akan menentukan apa yang terbaik buat keluarga, serta menentukan langkah-langkah untuk memecahkan kendala yang ada. Antara keduanya harus mengetahui kelemahan serta kelebihan masing-masing dan saling mendukung.
Sangat penting menyamakan tujuan, visi, serta misi keluarga. Karena akan dapat menyelamatkan keutuhan rumah tangga, serta kita mengemban amanah yaitu menghantarkan anak meraih surganya. Hal-hal yang menyangkut anak tetap harus melibatkan kedua orang tuanya. Sehingga di mata anak keduanya demikian kompak dan anak akan mudah terbentuk karakternya.
Keterbukaan bisa dijalin dalam berbagai hal, misalnya, si istri mengutarakan bahwa ia begitu merasa kecapean menangani tiga anak dengan jarak umur yang begitu dekat. Suami bisa membantu menyelesaikan beberapa tugas rumah tangga atau menyediakan pembantu, sehingga memperingan tugas istri, dan posisi istri sebagai pendamping suami dan ibu bagi anak-anaknya akan optimal. Keterbukaan dengan suami bisa kita latih sedini mungkin. Kalau kita termasuk orang yang susah memulai keterbukaan, mulailah dengan menanyakan hal-hal yang disukai suami dan dalam suasana yang santai, misalnya menanyakan mengapa dahulu memilihnya untuk dijadikan istri. Demikian juga bagi istri akan memberikan masukan k suami, alasan kenapa dahulu si istri mau diperistri olehnya. Hal ini selain untuk mengawali jalan keterbukaan, juga akan menimbulkan rasa romantis antara suami istri. Read the rest of this entry »